Indonesia Dijajah Belanda Di Namakan Dengan Kilang Minyak Bumi Hangus Tahun 1947

Indonesia Dijajah Belanda Di Namakan Dengan Kilang Minyak Bumi Hangus Tahun 1947

Indonesia Dijajah Belanda Di Namakan Dengan Kilang Minyak Bumi Hangus Tahun 1947

BERKAHPOKER Pangkalan Brandan, yang berada di wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), menjadi saksi sejarah perjuangan pasukan RI dan rakyat mempertahankan Kemerdekaan.

Pertempuran sengit terjadi melawan pasukan Belanda yang didukung oleh Sekutu pada masa Agresi Militer Belanda I.

Diketahui, tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Satu di antaranya Pangkalan Brandan, yang merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia saat itu.

Pangkalan Brandan bahkan menjadi lautan api demi menggagalkan upaya Belanda merebut kilang minyak tersebut.

Jembatan dihancurkan, kilang minyak diledakkan, dan rumah-rumah dibakar.

Api terus berkobar selama 3 hari. Peristiwa itulah di kemudian hari dikenal sebagai peristiwa ‘Brandan Bumi Hangus’.

Ketua Tua Angkatan 45 Langkat, Datok Seri Zainal Arifin, AKA, mengatakan, peristiwa yang terjadi di Pangkalan Brandan tak kalah menarik dengan peristiwa Bandung Lautan Api.

Ia menceritakan Belanda berupaya menguasai daerah penghasil minyak tersebut, pada masa Agresi Militer Belanda I.

Pada masa itu Belanda masuk ke Kota Medan. Pemerintahan pun lumpuh. Belanda berhasil mengambil alih kekuasan.

Kantor Gubernur Sumatra, yang pada saat itu dijabat oleh T Muhammad Hasan, akhirnya dipindahkan ke Siantar. Namun, Belanda tetap berupaya mengambil alih kekuasaan.

Kemudian, Gubernur Sumatra akhirnya diberangkatkan ke Aceh. Untuk pengamanan gubernur, diserahkan kepada jenderal yang di Aceh.AGEN POKER TERPERCAYA

Namun, situasi di Sumatra tepatnya di Medan tetap belum kondusif. Tentara Belanda kemudian mengarahkan serangan ke Langkat.

Tentara Belanda konvoi dengan pasukan yang dilengkapi kendaraan berlapis baja dan alat tempur modern. Mereka masuk dari daerah Tandem Hilir.

Sesampainya di Tandem Hilir, pasukan Belanda dibagi menjadi dua. Satu pasukan ke arah Binjai dan satu lagi ke arah Langkat.

Lalu pada 25 Juli 1947, Binjai berhasil dikuasai Belanda. Ibu Kota Kabupaten Langkat yang pada masa itu ditempatkan di Binjai, akhirnya lumpuh.

Bupati Langkat, Adnan Nur Lubis, harus berjalan kaki dari Binjai menuju Pangkalan Brandan selama lima hari. Perjalanan itu diikuti oleh pejabat dari dinas atau Djawatan Penerangan, Djawatan Kebersihan, dan lainnya.

Setelah sampai di Pangkalan Brandan, akhirnya diumumkan pemindahan Ibu Kota Kabupaten Langkat, dari Binjai ke Pangkalan Brandan.

Pemindahan ibu kota itu dilakukan karena negara dalam keadaan darurat. Beberapa tahun berselang, ibu kota Langkat akhirnya dipindahkan lagi ke Binjai, tepatnya tahun 1950.

Belanda, yang kala itu sudah menaklukkan Binjai dan Stabat, lalu mengarahkan serangan ke Tanjungpura.

Pihak Belanda mulai melakukan serangan pada 28 Juli 1947. Namun, pasukan militer Indonesia dan rakyat tak berdiam diri.

Pertempuran sengit pecah saat Belanda memasuki kawasan Tanjungpura. Dalam cacatan sejarah, pejuang Indonesia berhasil memukul mundur tentara Belanda, bahkan sempat menduduki Stabat selama 6 jam.

Namun, pasukan bantuan Belanda langsung tiba. Mustang (pesawat Belanda) menembaki pasukan RI hingga akhirnya Stabat jatuh kembali ke tangan Belanda.

Perlawanan sengit rakyat Indonesia tak lantas menghalangi niat Belanda untuk menguasai Pangkalan Brandan.

Untuk memuluskan rencana itu, Belanda kembali mengatur strategi penyerangan Kota Tanjungpura pada tanggal 4-5 Agustus 1947.

Informasi itu diketahui para pasukan Indonesia. Pada tanggal 2 Agustus, para pejuang di Tanjungpura kemudian membakar Istana Kesultanan Langkat.

Untuk diketahui, pada 1946 di Istana Kesultanan Langkat terjadi revolusi sosial. Jadi, istana tersebut kosong. Pintu, jendela dan bangunan rusak karena serangan dari pembesar kerajaan Langkat.

Istana Langkat yang dalam keadaan kosong dibakar oleh pejuang. Dua bangunan istana, 16 gedung rumah panggung milik para datuk-datuk dihancurkan. Bahkan, museum Langkat juga diledakkan. Namun, gedung itu tidak hancur total, hanya kerusakan bagian atap saja.

Tujuan penghancuran itu tak lain agar bangunan-bangunan tersebut tidak menjadi kantong-kantong tentara Belanda.

Belanda berhasil menguasai Tanjungpura pada tahun 1947. Kemudian, para pejuang mulai mundur. Pejuang dari Langkat hulu maupun hilir pindah ke Pangkalan Brandan.

Para pejuang berkumpul di Teluk Aru, dan menyatukan kekuatan untuk mempertahankan Pangkalan Brandan. Jadi, batas pertempuran pejuang dengan tentara Belanda saat itu adalah di Markas Sigebang.AGEN POKER ONLINE

Pada 8 Agustus 1947, tentara Belanda sudah melancarkan serangan ke Pangkalan Brandan. Belanda menembakkan meriam dari Tanjungpura ke arah Brandan.

Kemudian, pada 11 Agustus 1947, para pejuang berhasil menangkap seorang kaki tangan Belanda, bernama Hafiz. Setelah diinterogasi, diperoleh informasi bahwa Belanda akan melakukan serangan untuk menaklukkan Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu.

 

By ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *